Friday, December 14, 2007

Sepi di Tengah Keramaian

Semilir angin menggoyang dedaunan
Tersenyum riang diiringi deru kendaraan
Suara tawa menghiasi siang ini
Menyejukkan udara panas yang menyelimuti

Walau begitu, mereka tak mampu
Menentramkan jiwa yang sedih
Sepi di tengah keramaian hari
Karna kesal mu
Karna diam mu

Tawaku hanya di wajah, hatiku masih menderita
Aku termenung, merenungkan salah ku

Di tengah keramaian
Aku merasa sepi

Wednesday, November 28, 2007

Bug di Cerita Jin Lampu Aladdin

Pernah denger cerita jin yang keluar dari lampu Aladdin kan? Menurut ceritanya, tiga permintaan kita bakalan dikabulin kalo kita membebaskan jin tersebut. Nah, berikut adalah syarat-syaratnya (bila kamu menemukan dan kemudian menggosokkan).
  1. Tidak boleh minta permintaan lagi,
  2. Tidak boleh mengubah sejarah/kehidupan orang lain tanpa persetujuan orang tersebut,

Nah, kalo saya nemu:

Permintaan pertama:
"Saya minta 10 permintaan lagi"

TEETT!!!
(Exception raised, error no. 1: Tidak boleh minta permintaan lagi)

"Saya minta koneksi Internet gratis 24 jam dengan kecepatan 100 GByte/S"

TUINGG!!! (Permintaan dikabulkan)

Permintaan kedua:
"Saya mau tanya apakah jin selalu mengabulkan 3 permintaan setiap kali keluar dari lampu???"

TUINGG!!! (Permintaan dikabulkan)
Ya iyalah...itu permintaan ke-2...(pertanyaan termasuk permintaan (minta jawaban toh?))

Sang jin menjawab, "YOI, 3 PERMINTAAN DIKABULKAN SETIAP SAYA KELUAR DARI LAMPU!"

Permintaan ketiga:
"Saya mau kamu masuk lagi ke botol"

TUINGG!!!

Hayo tebak yang selanjutnya terjadi... :D

Pesan moral:
Ada bug di cerita Jin Lampu Aladdin... (sudah saatnya si jin mem-patch syaratnya). Buat para admin sistem, rajin-rajinlah mem-patch sistem anda biar aman ga kayak si Jin kolot yang lupa mem-patch syaratnya sendiri :D.

NB:
Cerita ini bersumber dari Friendly. Diubah seperlunya dengan gaya bahasa gw tanpa mengubah makna yang terkandung di dalam cerita (+ gw nambahin pesan moral buat para admin)


Semoga bermanfaat... :)


Keling

Mendengar kata "keling", yang terbayang di otak ku adalah orang India. Tetapi bukan hanya itu, seiring dengan waktu, makna kata keling meluas artinya menjadi "hitam". Jadi bila mendengar kalimat "beli mercon di tempat orang keling", artinya adalah beli mercon(petasan) di tempat orang India. Tetapi kalau ada kalimat "keling kali pun kau" arinya adalah hitam sekali kau.

Pernah beberapa waktu yang lalu aku bertemu dengan salah seorang teman yang karena kehendak Tuhan dilahirkan dari ras India. Begini kira-kira percakapan kami.

DaGu (D): "Mo kemana?"
Teman (T): "Mo ke kuil di jalan XXX" (Gw lupa nama jalannya :))

D: "Dimana tu?" (Beneran ga tw, makanya sekarang masih lupa :D)
T: "Di dekat jalan Zainul Arifin"

D: "Ohh... Kampung Keling..." (Daerah di sekitar jalan Zainul Arifin dikenal sebagai Kampung Keling).
T: "Jangan gitu la bang..." (Mungkin dipikirnya gw nyindir dia..., padahal dikit pun ga da maksud untuk nyindir ato apapun...)

Gitu seringnya kata "keling" didengar (khususnya bagi warga kota Medan), sebenarnya darimana sih kata tersebut berasal? Menurut informasi yang gw dapet dari tabloid Suara USU No. 60/XII/Oktober 2007, munculnya kata "keling" kemungkinan berasal dari orang-orang Non-India yang mendengar bunyi gelang yang berjejer panjang di tangan dan di kaki orang-orang India ketika mereka berjalan. "Kan bunyinya kling, kling, kling, jadi muncullah nama Kampung Keling", jelas Rodiah, penduduk setempat yang juga pengurus Yayasan The South Indian Moslem Mosque and Walfare Community.

Mengenai benar tidaknya asal kata ini, tidak ada yang tahu. Karena sumbernya sendiri juga masih ragu-ragu. Tapi yang masih bikin gw penasaran, kenapa mereka (orang India kota Medan - kalo kota lain gw ga tau) hobi banget jualan mercon & kembang api ato buka toko peralatan olah raga???

Sunday, November 25, 2007

Selamat Datang Mati Lampu

Sejak hari Kamis, tanggal 22-11-2007 PLN dengan teratur memadamkan listrik (lagi) untuk wilayah Medan. Karena itu dihimbau agar masyarakat memaklumi (lagi) hal ini, karena memang sudah kebiasaan PLN memadamkan listrik (tentunya dengan alasan pemeliharaan). Selamat datang (kembali) buat saudara Mati Lampu...

Friday, November 23, 2007

Pembicaraan Developer dengan Client

Client: "Mas, saya mo minta buatin program stok barang donk"
Developer: "Bisa pak"
Client : "Harganya berapa Mas? Jangan yang mahal-mahal ya. Kasi harga grosir la..."
Developer: "<%(*_*)%>";

(Emangnya rokok, bisa dibeli pake harga grosir)

Yah, begitulah kira-kira pembicaraan ku dengan seorang client... :)

07.52

Pagi ini (Sabtu, 24 Nopember 2007) menunjukkan pukul 07.52. Wah, tumben aku dateng ke kantor pagi-pagi... (hari Sabtu pulak) :)

Kebijaksanaan Cendol

Semoga artikel di bawah ini dapat membuat kita lebih baik lagi...

Karena akan menerima tamu dari Thailand, maka Kyai itu merasa harus menyuguhkan Jawa. Segala yang nampak pada Pondok Pesantren yang dipimpinnya, sebenarnya relatif sudah mengekspresikan tradisional Jawa. Potret desa, model-model bangunan dan irama kehidupannya. Sang Tamu besok mungkin akan mendengarkan para santri berbincang dalam bahasa Arab atau Inggris. Tapi itu bukan masalahnya. Yang penting Kyai kita ini tidak akan mungkin menyediakan Coca Cola ke depan hidung tamunya dari tanah Thai itu.

Demikianlah akhirnya sekalian Santriyah yang tergabung dalam Qismul Mathbah (Departemen Dapur) bertugas memasak berbagai variasi menu Jawa. Dari sarapan grontol, makan siang nasi brongkos, malam gudeg, besoknya pecel, lalu sayur asem dengan snack lemet dan limpung.

Sang Kyai sendiri "cancut tali wondo" mempersiapkan suguhan siang hari yang diperkirakan bakal terik. Ia dengan vespa kunonya melaju, membawa semacam tempat sayur yang besar. Empat kilometer ditempuh, dan sampailah ia ke warung kecil di tepi jalan. Seorang Bapak tua penjual cendol. Sang Kyai sudah memperhitungkan waktunya untuk sampai pada bapak cendol ini pada dinihari saat jualannya. Yakni ketika stock masih melimpah.

Terjadilah dialog dalam bahasa Jawa krama-madya.

Masih banyak, pak ?
Masih Den, Wong baru saja bukak beberan.

Alhamdulillah, ini akan saya beli semua. Berapa ?
Pak Cendol kaget, Lho, Jangan Den ! Jawabnya spontan.

Sang Kyai pun tak kalah kagetnya : Kok Jangan ?
Lho, Kalau dibeli semua, bagaimana saya bisa berjualan ?

Sang Kyai terbelalak. Hatinya mulai knocked-down, tapi belum disadarinya.
Lho, kan saya beli semuanya, jadi bapak nggak perlu repot-repot berjualan
lagi disini hari ini.

Pak Cendol tertawa dan sang Kyai makin terperangah.
Orang jualan kan untuk dibeli. Kalau sudah laku semua kan malah beres ?

Pak Cendol makin terkekeh.
Panjenengan ini bagaimana tho den ! Kalau dagangan saya ini dibeli semua,
nanti kalau orang lainnya mau beli bagaimana ! Mereka kan tidak kebagian !

Knock-Outlah Sang Kyai
Ia terpana. Pikirannya terguncang. Kemudian sambil tergeregap ia berkata : "Maafkan, maafkan saya pak. Baiklah sekarang bapak kasih berapa saja yang bapak mau jual kepada saya".

Seperti seorang aktor di panggung yang disoraki penonton, ia kemudian mendapatkan vespanya dan ngeloyor pulang. Sesampainya di Pondok ia langsung memberikan cendol ke dapur dan memberi beberapa penugasan kepada santriyah, kemudian ia menuju kamar, bersujud syukur dan mengucapkan istighfar, lantas melemparkan tubuhnya di ranjang.

Alangkah dini pengalaman batinku gumannya dalam hati. Sembahyang dan latihan hidupku masih amat kurang. Aku sungguh belum apa-apa di depan orang luar biasa itu. Ia tidak silau oleh rejeki nomplok. Ia tidak ditaklukan oleh sifat kemudahan-kemudahan memperoleh uang. Ia terhindar dari sifat rakus. Ia tetap punya dharma kepada sesama manusia sebagai penjual kepada pembeli-pembelinya.

Ia bukan hanya seorang pedagang. Ia seorang manusia.


Dikutip dari Emha Ainun Najib

Wednesday, November 21, 2007

Pagi Ini Dua Orang Marah-Marah

Seorang pengendara motor king ingin mendahuluiku, tapi niatnya terhenti karena di simpang jalan Makmur ada pengendara lain yang hendak menyeberang. Mungkin karena pengendara tersebut agak lambat, pengendara motor king marah-marah. Pake nggeber-geber motornya lagi. Ga cuma itu, dia malah melototin pengendara motor yang hendak nyebrang. Heran neh, pagi-pagi udah marah-marah, gimana ntar siang ya? Gara-gara lambat sedikit aja ampe marah gitu. Sabar dikit napa sih?

Yang kedua terjadi di simpang Pattimura dan Mongonsidi. Seorang kernet marah-marah karena mobil didepannya belum jalan padahal lampu lalu lintas sudah ijo. Loh, kalo gitu kernetnya ga salah donk? Ya jelas salah la! Lampu ijonya baru nyala ± 1 detik eh si kernet udah marah-marah. Heran, gitu aja kok marah.

Pagi-pagi udah marah-marah. Gimana ntar siangnya?

Wednesday, November 14, 2007

Tentang Programmer

"Rokoknya mas"
"Makasi, ga ngerokok"
"Loh, programmer disini kok pada ga ngerokok smua ya? Kalo disana programmer pada ngerokok semua..."

Begitulah kira-kira sekilas perbincangan ku dengan salah seorang programmer asal pulau Jawa pas lagi ngerjain project di salah satu perusahaan perkebunan. Menyiratkan kalau dia menganggap bahwa semua itu programmer itu perokok. Memang, kadang-kadang ada faktor-faktor tertentu membuat seseorang "dicap" sebagai programmer. Saking maniaknya coding, seorang programmer kadang-kadang mpe lupa cukuran, jarang mandi, telat sarapan (dirapel ama makan malam), ga pernah ganti baju, daerah sekitar mata kehitam-hitaman, tak jarang yang sering pilek karena kebiasaan begadang. Hal inilah yang membuat programmer diidentikkan dengan hal-hal tersebut di atas.

Ada satu kasus menarik. Ada seseorang mengirimkan email ke milis. Intinya dia kebingungan mau berpakaian apa pada saat wawancara pekerjaan sebagai programmer. Wah kenapa bingung? Karena telah tertanam di otaknya bahwa pakaian programmer mesti acak-acakan. Karena ada wawancara pekerjaan, dia bingung kalo berpakaian rapi ntar dianggap bukan programmer. Kalo pakaian acak-acakan ntar dianggap ga sopan. Nah lo, ga nyambung banget kan? Kita mesti sadar diri lah, namanya juga mau wawancara. Pakai pakaian yang sopan dunkz. Apa anda mau pergi wawancara tapi belum mandi, masih pake kaos oblong, celana pendek, kumis dan jenggot belum dirapiin, belum sikat gigi, mata masih setengah karena baru selesai coding? Ngga kaan...?

Kitalah yang Menciptakan
Yah, kitalah yang membuat aturan-aturan tersebut. Mengelompokkan seseorang berdasarkan "cover"-nya. Kalo mau jujur, ga semua orang seperti itu. Ga jarang kok programmer yang pakaiannya rapi. Keahlian seseorang di bidang programming ga ditentukan ama rapi atau tidak pakaiannya. So, walaupun seorang programmer berjenggot tebal, pakaian lusuh, mata kehitam-hitaman, belum tentu dia master coding. Bisa jadi dia adalah seorang programmer yang ga laku karena kurang ilmu.

Aku banyak kenal programmer yang berpakaian rapi, dan kenal pula programer-programmer berpakaian yang acak-acakan. Aku kenal juga programmer yang merokok. Dan banyak juga kenal mereka yang tidak merokok. Kesimpulannya, bukan dari cara pakaian atau kebiasaan yang menentukan bahwa seseorang itu programmer atau bukan. Soal cara pakaian dan kebiasaan itu merupakan pribadi dari masing-masing programmer dan berbeda satu sama lainnya.


Mr. X: "Mas, programmer ya?"
Gelandangan: "Kok nebak gitu?"
Mr. x: "Tuh pakaiannya acak-acakan..."
Gelandangan: "Lah.. dulu gw disebut gelandangan, sekarang disebut programmer... Udah nasib jadi orang susah.. disebut apa aja ya pasrah aja..." (Bicara dalam hati sambil garuk-garuk kepala)

Friday, November 09, 2007

Mengintip Password Komputer Boss

Seorang office boy (OB) suatu hari sedang membersihkan lantai di belakang kursi Direktur. Saat itu sang direktur sedang duduk di kursinya mengerjakan sesuatu yang kelihatan sangat penting di depan komputernya. Saking sibuknya sang direktur berkonsentrasi ke komputer, ia tidak menyadari si office boy mengintip dari pundaknya apa yang sedang ia kerjakan.

Beberapa menit kemudian, di ruang office boy, ia mengatakan kepada rekannya yang lain, bahwa ia tadi sempat mengintip sang boss mengetikkan password-nya! Ia melihat huruf demi huruf! Ia pun tegang karena mungkin merupakan satu-satunya yang tahu password orang nomor satu di perusahaan itu!

Kabar angin pun beredar beberapa hari kemudian, dan seorang staf IT yang ingin masuk lewat jaringan ke komputer sang boss untuk mengetahui rahasia perusahaan terutama rahasia boss, mendekati si office boy.

"Saya akan bayar berapa untuk password itu?" tanya si staf IT.

Sang office boy dengan gugup menjawab, "Dua ratus ribu!"

"Kemahalan! Seratus," staf IT berargumen sambil langsung menyodorkan uang seratus ribu.

Si office boy pun setuju.

Setelah memberikan uangnya, si staf IT menyiapkan pensil untuk mencatat di secarik kertas. "Oke, apa passwordnya?"

"Bintang, bintang, bintang, bintang, bintang, bintang!" jawab sang office boy sambil berbisik. "Passwordnya ternyata hanya enam bintang!"


Sumber: http://www.ketawa.com

Egois

Matahari semakin meninggi, udara panas sedikit menyengat. Sayup-sayup terdengar suara lantunan ayat-ayat suci Al Qur'an dari speaker mesjid, dikalahkan oleh bising kendaraan. Dengan mengenakan jaket hitam pelindung panas, aku, bersama sepeda motorku, menuju rumah sepupuku.

Bersiap-siap mo shalat Jum'at karena panggilan sudah terdengar. Setelah berwudhu, ku melangkahkan kaki menuju mesjid Silaturrahim.

Sang khatib berkhutbah. Seperti biasa, aku mendengarkan dan mencoba untuk tidak mengantuk. Tapi kali ini ada yang menarik di dalam isi khutbahnya. Ia menyinggung orang-orang yang sudah sering naik haji. Untuk setiap muslim, ibadah haji hanya diwajibkan sekali seumur hidup, itupun bila mampu. Ibadah haji yang berikutnya tidak dipandang sebagai ibadah wajib. Khatib Jum'at tersebut berpendapat alangkah baiknya bila uang yang digunakan untuk berhaji yang kedua dan seterusnya disumbangkan untuk membangun fasilitas umum seperti jembatan yang rusak. Atau membantu fakir miskin dan anak-anak terlantar. Manfaatnya lebih terasa. Bila dibandingkan dia haji berkali-kali. Bayangkan bila orang-orang muslim kaya yang sering naik haji memikirkan hal ini. Sudah berapa fasilitas umum yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat? Sudah berapa anak-anak yang bersekolah? Sudah berapa fakir miskin yang tersenyum bahagia?

Aku berpikir, manusia adalah makhluk egois. Hanya sedikit yang memikirkan penderitaan orang lain. Hanya sedikit yang peduli dengan nasib orang lain. Astaghfirullah... Apakah aku termasuk salah satu diantara mereka yang egois? Apakah aku hanya memikirkan kepentingan diri sendiri? Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba-Mu ini... aamiin...

Thursday, November 08, 2007

He 's here and with me for a reason

Sebuah kisah menarik untuk pengembangan diri. Renungkan, pahami, dan lakukan....

Tuhan memberiku sebuah tugas, yaitu membawa keong jalan-jalan. Aku tak dapat jalan terlalu cepat, Keong sudah berusaha keras merangkak, setiap kali hanya beralih sedemikian sedikit.

Aku mendesak, menghardik, memarahinya, keong memandangku dengan pandangan meminta maaf, serasa berkata : "aku sudah berusaha dengan segenap tenaga..."

Aku menariknya, menyeret, bahkan menendangnya. Keong terluka. Ia mengucurkan keringat, nafas tersengal-sengal, merangkak ke depan.

Sungguh aneh, mengapa Tuhan memintaku mengajak seekor keong berjalan-jalan? Ya Tuhan! Mengapa? Langit sunyi-senyap... Biarkan saja keong merangkak di depan, aku kesal di belakang. Pelankan langkah, tenangkan hati...

Oh? Tiba-tiba tercium aroma bunga, ternyata ini adalah sebuah taman bunga. Aku rasakan hembusan sepoi angin, ternyata angin malam demikian lembut. Ada lagi! Aku dengar suara kicau burung, suara dengung tawon. Aku lihat langit penuh bintang cemerlang. Oh? Mengapa dulu tidak rasakan semua ini? Barulah aku teringat, mungkin aku telah salah menduga! Ternyata Tuhan meminta keong menuntunku jalan-jalan sehingga aku dapat mamahami dan merasakan keindahan taman ini yang tak pernah kualami kalau aku berjalan sendiri dengan cepatnya.

"He 's here and with me for a reason..."

Saat bertemu dengan orang yang benar-benar engkau kasihi, haruslah berusaha memperoleh kesempatan untuk bersamanya seumur hidupmu. Karena ketika dia telah pergi, segalanya telah terlambat.

Saat bertemu teman yang dapat dipercaya, rukunlah bersamanya. Karena seumur hidup manusia, teman sejati tak mudah ditemukan.

Saat bertemu penolongmu, ingat untuk bersyukur padanya. Karena ia lah yang mengubah hidupmu.

Saat bertemu orang yang pernah kau cintai, ingatlah dengan tersenyum untuk berterima kasih. Karena ia lah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang kasih.

Saat bertemu orang yang pernah kau benci, sapalah dengan tersenyum. Karena ia membuatmu semakin teguh/kuat.

Saat bertemu orang yang pernah mengkhianatimu, baik-baiklah berbincanglah dengannya. Karena jika bukan karena dia, hari ini engkau tak memahami dunia ini.

Saat bertemu orang yang pernah diam-diam kau cintai, berkatilah dia. Karena saat kau mencintainya, bukankah berharap ia bahagia?

Saat bertemu orang yang tergesa-gesa meninggalkanmu, berterimakasihlah bahwa ia pernah ada dalam hidupmu. Karena ia adalah bagian dari nostalgiamu.

Saat bertemu orang yang pernah salah paham padamu, gunakan saat tersebut untuk menjelaskannaya. Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan.

Saat bertemu orang yang saat ini menemanimu seumur hidup, berterimakasihlah sepenuhnya bahwa ia mencintaimu. Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati.

Wednesday, November 07, 2007

Halal bi Halal

Halal bi Halal, sebuah momen setelah bulan Ramadhan, berkumpul untuk saling mempererat silaturahim. Hal ini lazim dilakukan di Indonesia. Dan yang menarik, ternyata orang Arab sendiri, tidak mengerti apa itu halal bi halal, karena memang tidak ada istilah seperti itu di dalam bahasa Arab. Jadi, bagaimana bisa istilah tersebut populer di Indonesia? Bahkan istilah tersebut kita ekspor ke Malaysia dan Brunei.

Ga jelas siapa yang membuat istilah "Halal bi halal". Ada yang bilang bung Karno lah yang memprakarsainya [link]. Dari salah satu acara di tv, sejarah halal bi halal bermula dari kemerdekaan bangsa Indonesia diraih bertepatan pada saat umat Muslim melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Pada bulan Ramadhan-lah bangsa Indonesia terbebas dari penjajahan dan juga dari godaan syetan. Pada saat itu banyak spanduk yang bertuliskan HALAL BI HALAL. Oleh karena itulah frase tersebut masih dipake sampai sekarang. Entah siapa yang buat, tapi yang jelas nilai bahasa Arabnya D. Hehe...

Hm... ntar Malaysia mengklaim "Halal bi halal" asli dari Malaysia ga ya...???

NB:
momen postingnya ga dpt... mestinya gt abis lebaran... yah... baru kemaren sempat ngetiknya (sok sibuk)

Hati: Tak Bisa Kau Pungkiri

Hati...
Sesuatu yang tak bisa kau ingkari
dan tak bisa kau pungkiri
serta tak bisa kau hindari
tidak bisa pula kau manipulasi
walau yakin bisa kau lakukan
Ia takkan berubah
bagaimanapun caramu mengubahnya
Ia hanya bisa terpendam
dan menyisakan setitik api
yang takkan padam
kecuali kau menemukan yang baru
yang lebih terang
dari api kecilmu
sebelum itu
terimalah...
Ia takkan bisa kau ingkari...

Tuesday, November 06, 2007

Muhammad SAW Penutup Nabi-Nabi


[33:40] Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dari sejak Nabi Muhammad SAW wafat hingga kini, banyak sekali manusia yang mengaku-ngaku menjadi nabi atau rasul yang terakhir umat Islam. Padahal, dari surat Al Ahzab ayat 40 di atas, sudah jelas bahwa Rasulullah SAW adalah penutup nabi-nabi. Bila para pendusta berkata "Aku adalah rasul terakhir, sedangkan Al Qur'an mengatakan Muhammad SAW adalah penutup nabi, bukan penutup rasul", maka dia benar-benar BODOH. Nabi BELUM TENTU rasul, sedangkan rasul SUDAH PASTI nabi. Seseorang tidak akan menjadi rasul, bila ia bukan nabi. Bila Nabi Muhammad SAW adalah penutup nabi-nabi, maka SUDAH PASTI dia juga penutup rasul-rasul sebelumnya.

Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah...

Hanya sedikit yang dapat saya sumbangkan demi tegaknya kebenaran di dunia ini...

Semoga bermanfaat...

Ayat Al Qur'an diambil dari: http://www.dudung.net.

Monday, October 29, 2007

Ten Mistakes in English

Dikutip dari sebuah web, tapi lupa namanya apa :)


These days, we tend to communicate via the keyboard as much as we do verbally. Often, we're in a hurry, quickly dashing off e-mails with typos, grammatical shortcuts (I'm being kind here), and that breezy, e.e. cummings, no-caps look. It's expected. It's no big deal. But other times, we try to invest a little care, avoiding mistakes so that there's no confusion about what we're saying and so that we look professional and reasonably bright.

In general, we can slip up in a verbal conversation and get away with it. A colleague may be thinking, Did she just say "irregardless"?, but the words flow on, and our worst transgressions are carried away and with luck, forgotten.

That's not the case with written communications. When we commit a grammatical crime in e-mails, discussion posts, reports, memos, and other professional documents, there's no going back. We've just officially gone on record as being careless or clueless. And here's the worst thing. It's not necessary to be an editor or a language whiz or a spelling bee triathlete to spot such mistakes. They have a way of doing a little wiggle dance on the screen and then reaching out to grab the reader by the throat.

So here we are in the era of Word's red-underline "wrong spelling, dumb ass" feature and Outlook's Always Check Spelling Before Sending option, and still the mistakes proliferate. Catching typos is easy (although not everyone does it). It's the other stuff -- correctly spelled but incorrectly wielded -- that sneaks through and makes us look stupid. Here's a quick review of some of the big ones.

#1: Loose for lose
No: I always loose the product key.
Yes: I always lose the product key.

#2: It's for its (or god forbid, its')
No: Download the HTA, along with it's readme file.
Yes: Download the HTA, along with its readme file.
No: The laptop is overheating and its making that funny noise again.
Yes: The laptop is overheating and it's making that funny noise again.

#3: They're for their for there
No: The managers are in they're weekly planning meeting.
Yes: The managers are in their weekly planning meeting.
No: The techs have to check there cell phones at the door, and their not happy about it.
Yes: The techs have to check their cell phones at the door, and they're not happy about it.

#4: i.e. for e.g.
No: Use an anti-spyware program (i.e., Ad-Aware).
Yes: Use an anti-spyware program (e.g., Ad-Aware).
Note: The term i.e. means "that is"; e.g. means "for example." And a comma follows both of them.

#5: Effect for affect
No: The outage shouldn't effect any users during work hours.
Yes: The outage shouldn't affect any users during work hours.
Yes: The outage shouldn't have any effect on users.
Yes: We will effect several changes during the downtime.
Note: Impact is not a verb. Purists, at least, beg you to use affect instead:
No: The outage shouldn't impact any users during work hours.
Yes: The outage shouldn't affect any users during work hours.
Yes: The outage should have no impact on users during work hours.

#6: You're for your
No: Remember to defrag you're machine on a regular basis.
Yes: Remember to defrag your machine on a regular basis.
No: Your right about the changes.
Yes: You're right about the changes.

#7: Different than for different from
No: This setup is different than the one at the main office.
Yes: This setup is different from the one at the main office.
Yes: This setup is better than the one at the main office.

#8 Lay for lie
No: I got dizzy and had to lay down.
Yes: I got dizzy and had to lie down.
Yes: Just lay those books over there.

#9: Then for than
No: The accounting department had more problems then we did.
Yes: The accounting department had more problems than we did.
Note: Here's a sub-peeve. When a sentence construction begins with If, you don't need a then. Then is implicit, so it's superfluous and wordy:
No: If you can't get Windows to boot, then you'll need to call Ted.
Yes: If you can't get Windows to boot, you'll need to call Ted.

#10: Could of, would of for could have, would have
No: I could of installed that app by mistake.
Yes: I could have installed that app by mistake.
No: I would of sent you a meeting notice, but you were out of town.
Yes: I would have sent you a meeting notice, but you were out of town.

Bonus peeve

I'll just throw one more thing out here: My current burning pet peeve. At some point, who knows when, it became common practice to say that something is "hit and miss." Nuh-UH. It can't be both, right? It either hits or it misses... "Hit OR miss." Granted, it's a small thing, a Boolean-obsessive sort of thing. But it's nonetheless vexing because it's so illogical. Okay, that's mine. If you've got a peeve of your own, share it in the discussion (or post a comment and tell me to get over it).


Semoga bermanfaat... :)

Wednesday, October 24, 2007

Bahaya Email Berantai

> DEar All
>
> Ini ada info baru n semoga bermanfaat..............
>
> atm info: Jika anda sedang terancam jiwanya karena
>dirampok/ditodong seseorang untuk mengeluarkan uang dari atm ,maka anda
>bisa minta pertolongan diam2 dengan memberikan nomor pin secara terbalik
>,misal no asli pin anda 1254 input 4521 di atm maka mesin akan
>mengeluarkan uang anda, juga tanda bahaya Ke kantor polisi tanpa
>diketahui pencuri tsb.Fasilitas ini tersedia di seluruh atm tapi hanya
>sedikit orang yang tahu tolong kasih tahu info kepada yang lain
>ya........
>

Kalau jaman dulu, pesan di atas namanya surat berantai. Penerima surat diharuskan menyalin surat yang diterima sebanyak beberapa lembar kemudian menyebarkannya kepada orang lain. Dan begitu seterusnya. Kini, seiring perkembangan teknologi, surat berantai sudah ketinggalan jaman. Digantikan dengan email atau pesan dari situs pertemanan (seperti friendster atau myspace). Biasanya yang mengirimkannya adalah kerabat dekat. Hmm... berarti namanya email berantai :). Tetapi apapun namanya, hal tersebut tentu mengganggu si penerima. Udah koneksi Internet lelet, eh... email yang dibuka isinya sampah!

Makin seringnya pengguna yang "rajin" mem-forward email berantai kepada teman-temannya, bisa jadi karena fasilitas yang terdapat di web penyedia layanan email atau software email client yang digunakan. Hanya dengan sekali klik, kemudian pilih seluruh teman, dan kirim! Dan sang email berantai pun menyebar bak virus. Hal tersebut saya rasa termasuk spamming. Yang masih menjadi pikiran saya, mengapa ya orang-orang senang mem-forward email yang tajol (tak jolas) asal usulnya?

Mm... jadi gimana donk? Ga bole forward email? Bukan itu intinya. Tentu saja boleh mem-forward email. Yang penting, isi email yang diterima sudah pantas ga untuk di-forward? Apakah isinya bermanfaat? Bila berkaitan dengan sesuatu hal seperti akidah, fiqh, fakta, ataupun info, sebaiknya pesan tersebut diteliti dahulu kebenarannya (check and recheck). Jadi inget kasus tentang data korban musibah Adam Air di awal tahun 2007, dengan pedenya menteri perhubungan yang kala itu dijabat oleh pak Hatta Rajasa mengumumkan data yang belum diverifikasi kebenarannya. Wah, satu Indonesia kena TEPU! Bila isinya hanya sampah, buat apa di-forward? Tentu hanya menuh-menuhin inbox si penerima kan? Beberapa waktu yang lalu ada teman yang mengirimkan pesan yang berisi info tentang virus baru. Mungkin karena di akhir pesan ada tulisan kira-kira seperti ini: "SEGERA KIRIM KE SELURUH TEMAN-TEMANMU!" maka bagai sapi yang dicocok hidungnya, diapun menyebarkan pesan berantai tersebut dengan senyuman dan hati riang serta berpikir bahwa teman-teman yang menerima pesannya akan berterima kasih telah diberitahu sebuah info penting... fiuh... benarkah demikian? Saya, sebagai salah satu penerima pesan, membaca dan mengamati isi pesan tersebut. Setelah dibaca ternyata banyak keganjilan dan untuk memastikannya saya lakukan kroscek ke berbagai sumber yang bisa dipercaya di Internet. Yah... dari observasi saya, ternyata pesan tersebut adalah hoax (berita bohong). So, buat apa nyebarin kebohongan? Dosa tau!


Bahkan ada yang mencetak isi email berantai dan menyebarkannya di tempat umum! Walah!

So, kesimpulannya... jangan pernah percaya 100% segala hal yang kamu ketahui dari Internet. Semua orang bisa mengakses Internet, semua orang bisa nulis di Internet. Begitu banyak artikel-artikel di Internet yang isinya penuh kebohongan, propaganda, adu domba, maupun penyisipan doktrin-doktrin tertentu. Bila kita tidak hati-hati dan langsung menyerap apa yang dibaca tanpa menyaringnya terlebih dahulu, maka kita yang akan diperbudak oleh teknologi. Teknologi bagaikan mata pisau yang tajam. Bila digunakan dengan benar, maka akan memudahkan pekerjaan kita. Bila tidak... bisa-bisa membunuh teman, kerabat, saudara, atau bahkan diri kita sendiri.


Semoga bermanfaat... :)

Fotografer: Dani Gunawan

Tuesday, October 23, 2007

Rambu yang Aneh...



Hmm.... kayaknya mending istirahat di dalam mobil daripada di bawah mobil... :)

Sunday, October 21, 2007

Rendang Open Source

[Serius Mode Off]

Isu rendang sudah dipatenkan oleh Malaysia emang udah lama banget. Tapi pas lagi makan rendang pada saat Idul Fitri kemaren, isu tersebut kembali terngiang-ngiang. Bila rendang sudah dipatenkan oleh Malaysia, maka semua restoran Padang yang menyediakan rendang sebagai menu masakannya harus membayar royalti kepada Malaysia. Kalo udah gitu bakalan banyak restoran-restoran "pemberontak". Mana mungkin mereka mau bayar royalti untuk rendang yang jelas-jelas memang dari Padang. Kemudian muncullah rendang bajakan, yaitu rendang yang dijual tetapi tidak membayar royalti kepada Malaysia. Dan muncullah isu "haram" bagi rendang bajakan. Sweeping rendang bajakan dilakukan secara berkala. Bagi restoran yang tidak dapat menunjukkan sertifikat rendang "Asli Malaysia" akan dituntut. Karena sudah tidak tahan lagi terhadap monopoli rendang "Asli Malaysia", lahirlah sebuah komunitas anti rendang bajakan yang menciptakan Rendang Open Source. Resep rendang open source dapat diperoleh secara gratis. Membuatnya pun tidak perlu lisensi. Akhirnya pemerintah Indonesia dengan gencar mempromosikan Rendang Open Soure dan membuat sebuah resep rendang baru yaitu RIGOS (Rendang Indonesia Go Open Source).

[Serius Mode On]

Kalau mo buat rendang ya buat lah... tak perlu lah dipatenkan segala... Negara yang aneh....

:)

Monday, October 08, 2007

Malaysia Truly Asia? BULLSHIT!!!

Pasti anda sering mendengar iklan-iklan tentang "Malaysia Truly Asia". Iklan yang memperlihatkan keindahan negeri Malaysia dan berusaha menyedot turis Indonesia agar berlibur kesana.

Tetapi... benarkah demikian???

Malaysia tak lebih dari negara pembajak. Pulau, rendang, batik, angklung sudah dibajak oleh negara Malaysia.

Malaysia tak lebih dari negara meremehkan bangsa lain. Terbukti dari pelanggaran hak-hak asasi yang dilakukan warga atau polisi Malaysia terhadap warga negara Indonesia yang berkunjung kesana. TKW, pelajar, wasit bela diri, bahkan sampai istri diplomat tak luput dari tindakan semena-mena warga Malaysia.

Lihat berita di:
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=309859&kat_id=3