Showing posts with label komputer. Show all posts
Showing posts with label komputer. Show all posts

Wednesday, November 28, 2007

Bug di Cerita Jin Lampu Aladdin

Pernah denger cerita jin yang keluar dari lampu Aladdin kan? Menurut ceritanya, tiga permintaan kita bakalan dikabulin kalo kita membebaskan jin tersebut. Nah, berikut adalah syarat-syaratnya (bila kamu menemukan dan kemudian menggosokkan).
  1. Tidak boleh minta permintaan lagi,
  2. Tidak boleh mengubah sejarah/kehidupan orang lain tanpa persetujuan orang tersebut,

Nah, kalo saya nemu:

Permintaan pertama:
"Saya minta 10 permintaan lagi"

TEETT!!!
(Exception raised, error no. 1: Tidak boleh minta permintaan lagi)

"Saya minta koneksi Internet gratis 24 jam dengan kecepatan 100 GByte/S"

TUINGG!!! (Permintaan dikabulkan)

Permintaan kedua:
"Saya mau tanya apakah jin selalu mengabulkan 3 permintaan setiap kali keluar dari lampu???"

TUINGG!!! (Permintaan dikabulkan)
Ya iyalah...itu permintaan ke-2...(pertanyaan termasuk permintaan (minta jawaban toh?))

Sang jin menjawab, "YOI, 3 PERMINTAAN DIKABULKAN SETIAP SAYA KELUAR DARI LAMPU!"

Permintaan ketiga:
"Saya mau kamu masuk lagi ke botol"

TUINGG!!!

Hayo tebak yang selanjutnya terjadi... :D

Pesan moral:
Ada bug di cerita Jin Lampu Aladdin... (sudah saatnya si jin mem-patch syaratnya). Buat para admin sistem, rajin-rajinlah mem-patch sistem anda biar aman ga kayak si Jin kolot yang lupa mem-patch syaratnya sendiri :D.

NB:
Cerita ini bersumber dari Friendly. Diubah seperlunya dengan gaya bahasa gw tanpa mengubah makna yang terkandung di dalam cerita (+ gw nambahin pesan moral buat para admin)


Semoga bermanfaat... :)


Wednesday, November 14, 2007

Tentang Programmer

"Rokoknya mas"
"Makasi, ga ngerokok"
"Loh, programmer disini kok pada ga ngerokok smua ya? Kalo disana programmer pada ngerokok semua..."

Begitulah kira-kira sekilas perbincangan ku dengan salah seorang programmer asal pulau Jawa pas lagi ngerjain project di salah satu perusahaan perkebunan. Menyiratkan kalau dia menganggap bahwa semua itu programmer itu perokok. Memang, kadang-kadang ada faktor-faktor tertentu membuat seseorang "dicap" sebagai programmer. Saking maniaknya coding, seorang programmer kadang-kadang mpe lupa cukuran, jarang mandi, telat sarapan (dirapel ama makan malam), ga pernah ganti baju, daerah sekitar mata kehitam-hitaman, tak jarang yang sering pilek karena kebiasaan begadang. Hal inilah yang membuat programmer diidentikkan dengan hal-hal tersebut di atas.

Ada satu kasus menarik. Ada seseorang mengirimkan email ke milis. Intinya dia kebingungan mau berpakaian apa pada saat wawancara pekerjaan sebagai programmer. Wah kenapa bingung? Karena telah tertanam di otaknya bahwa pakaian programmer mesti acak-acakan. Karena ada wawancara pekerjaan, dia bingung kalo berpakaian rapi ntar dianggap bukan programmer. Kalo pakaian acak-acakan ntar dianggap ga sopan. Nah lo, ga nyambung banget kan? Kita mesti sadar diri lah, namanya juga mau wawancara. Pakai pakaian yang sopan dunkz. Apa anda mau pergi wawancara tapi belum mandi, masih pake kaos oblong, celana pendek, kumis dan jenggot belum dirapiin, belum sikat gigi, mata masih setengah karena baru selesai coding? Ngga kaan...?

Kitalah yang Menciptakan
Yah, kitalah yang membuat aturan-aturan tersebut. Mengelompokkan seseorang berdasarkan "cover"-nya. Kalo mau jujur, ga semua orang seperti itu. Ga jarang kok programmer yang pakaiannya rapi. Keahlian seseorang di bidang programming ga ditentukan ama rapi atau tidak pakaiannya. So, walaupun seorang programmer berjenggot tebal, pakaian lusuh, mata kehitam-hitaman, belum tentu dia master coding. Bisa jadi dia adalah seorang programmer yang ga laku karena kurang ilmu.

Aku banyak kenal programmer yang berpakaian rapi, dan kenal pula programer-programmer berpakaian yang acak-acakan. Aku kenal juga programmer yang merokok. Dan banyak juga kenal mereka yang tidak merokok. Kesimpulannya, bukan dari cara pakaian atau kebiasaan yang menentukan bahwa seseorang itu programmer atau bukan. Soal cara pakaian dan kebiasaan itu merupakan pribadi dari masing-masing programmer dan berbeda satu sama lainnya.


Mr. X: "Mas, programmer ya?"
Gelandangan: "Kok nebak gitu?"
Mr. x: "Tuh pakaiannya acak-acakan..."
Gelandangan: "Lah.. dulu gw disebut gelandangan, sekarang disebut programmer... Udah nasib jadi orang susah.. disebut apa aja ya pasrah aja..." (Bicara dalam hati sambil garuk-garuk kepala)

Wednesday, October 24, 2007

Bahaya Email Berantai

> DEar All
>
> Ini ada info baru n semoga bermanfaat..............
>
> atm info: Jika anda sedang terancam jiwanya karena
>dirampok/ditodong seseorang untuk mengeluarkan uang dari atm ,maka anda
>bisa minta pertolongan diam2 dengan memberikan nomor pin secara terbalik
>,misal no asli pin anda 1254 input 4521 di atm maka mesin akan
>mengeluarkan uang anda, juga tanda bahaya Ke kantor polisi tanpa
>diketahui pencuri tsb.Fasilitas ini tersedia di seluruh atm tapi hanya
>sedikit orang yang tahu tolong kasih tahu info kepada yang lain
>ya........
>

Kalau jaman dulu, pesan di atas namanya surat berantai. Penerima surat diharuskan menyalin surat yang diterima sebanyak beberapa lembar kemudian menyebarkannya kepada orang lain. Dan begitu seterusnya. Kini, seiring perkembangan teknologi, surat berantai sudah ketinggalan jaman. Digantikan dengan email atau pesan dari situs pertemanan (seperti friendster atau myspace). Biasanya yang mengirimkannya adalah kerabat dekat. Hmm... berarti namanya email berantai :). Tetapi apapun namanya, hal tersebut tentu mengganggu si penerima. Udah koneksi Internet lelet, eh... email yang dibuka isinya sampah!

Makin seringnya pengguna yang "rajin" mem-forward email berantai kepada teman-temannya, bisa jadi karena fasilitas yang terdapat di web penyedia layanan email atau software email client yang digunakan. Hanya dengan sekali klik, kemudian pilih seluruh teman, dan kirim! Dan sang email berantai pun menyebar bak virus. Hal tersebut saya rasa termasuk spamming. Yang masih menjadi pikiran saya, mengapa ya orang-orang senang mem-forward email yang tajol (tak jolas) asal usulnya?

Mm... jadi gimana donk? Ga bole forward email? Bukan itu intinya. Tentu saja boleh mem-forward email. Yang penting, isi email yang diterima sudah pantas ga untuk di-forward? Apakah isinya bermanfaat? Bila berkaitan dengan sesuatu hal seperti akidah, fiqh, fakta, ataupun info, sebaiknya pesan tersebut diteliti dahulu kebenarannya (check and recheck). Jadi inget kasus tentang data korban musibah Adam Air di awal tahun 2007, dengan pedenya menteri perhubungan yang kala itu dijabat oleh pak Hatta Rajasa mengumumkan data yang belum diverifikasi kebenarannya. Wah, satu Indonesia kena TEPU! Bila isinya hanya sampah, buat apa di-forward? Tentu hanya menuh-menuhin inbox si penerima kan? Beberapa waktu yang lalu ada teman yang mengirimkan pesan yang berisi info tentang virus baru. Mungkin karena di akhir pesan ada tulisan kira-kira seperti ini: "SEGERA KIRIM KE SELURUH TEMAN-TEMANMU!" maka bagai sapi yang dicocok hidungnya, diapun menyebarkan pesan berantai tersebut dengan senyuman dan hati riang serta berpikir bahwa teman-teman yang menerima pesannya akan berterima kasih telah diberitahu sebuah info penting... fiuh... benarkah demikian? Saya, sebagai salah satu penerima pesan, membaca dan mengamati isi pesan tersebut. Setelah dibaca ternyata banyak keganjilan dan untuk memastikannya saya lakukan kroscek ke berbagai sumber yang bisa dipercaya di Internet. Yah... dari observasi saya, ternyata pesan tersebut adalah hoax (berita bohong). So, buat apa nyebarin kebohongan? Dosa tau!


Bahkan ada yang mencetak isi email berantai dan menyebarkannya di tempat umum! Walah!

So, kesimpulannya... jangan pernah percaya 100% segala hal yang kamu ketahui dari Internet. Semua orang bisa mengakses Internet, semua orang bisa nulis di Internet. Begitu banyak artikel-artikel di Internet yang isinya penuh kebohongan, propaganda, adu domba, maupun penyisipan doktrin-doktrin tertentu. Bila kita tidak hati-hati dan langsung menyerap apa yang dibaca tanpa menyaringnya terlebih dahulu, maka kita yang akan diperbudak oleh teknologi. Teknologi bagaikan mata pisau yang tajam. Bila digunakan dengan benar, maka akan memudahkan pekerjaan kita. Bila tidak... bisa-bisa membunuh teman, kerabat, saudara, atau bahkan diri kita sendiri.


Semoga bermanfaat... :)

Fotografer: Dani Gunawan